Libur akhir tahun 2009 ini saya putuskan untuk dihabiskan di luar Jakarta bersama teman bersepeda. Diawali dengan berangkat menggunakan kereta api senja utama dari Stasiun Pasarsenen. Disini sepeda saya harus membeli tiket bagasi seharga Rp. 25.000.  Awalnya ingin rasanya beradu argumen dengan petugas penjaga pintu, namun melihat jam sudah hampir waktu berangkat, tiket bagasipun saya bayar. Memang kali ini cukup mengagetkan saya mengingat pada perjalanan sebelumnya menggunakan kereta saya tidak dikenakan biaya apapun untuk sepeda. Jika dilihat melalui logika, sepeda saya itu tidak lebih besar daripada koper atau kardus besar yang dibawa penumpang lain.

Tiba di Jogja, sambil menunggu teman timuters (B2w subchapter Timut) yang sedang melakukan touring sepeda Jakarta-Jogja, saya mengunjungi family yang memang tinggal di Jogja.  Sekitar jam 4 sore (29 Des 09) telepon berbunyi dan saya segera meluncur menemui mereka. Alhamdulillah mereka semua selamat sampai tujuan setelah perjalanan panjang.
28122009854-800x600.jpg28122009857-800x600.jpg29122009859-800x600.jpg29122009860-800x600.jpg29122009862-800x600.jpg

Hari berikutnya (30 Des) setelah menginap di hotel Vidi di Jl. Kaliurang, kami melanjutkan perjalanan ke Magelang. Kali ini perjalanan tidak ditempuh dengan bersepeda. kami menyewa sebuah mobil bak seharga 200 ribu. Setibanya di magelang kami disuguhi pemandangan yang cukup untuk dapat menghilangkan penat dan segera beristirahat.

31 Des, Setelah kembali segar dari istirahat yang cukup, berangkatlah kami menuju Borobudur. Jarak yang ditempuh lumayan jauh dengan ditemani matahari yang mulai menampakkan dirinya dan ditambah terlalu cepat berbelok (baca: kesasar). Jarak Berangkat sekitar 25km, sedangkan jarak pulang lebih pendek dari itu. Suasana candi Borobudur tidak begitu nyaman dengan harga tiket masuk yang Rp. 22.500. Tempat wisata sejarah itu sudah sangat padat dengan pengunjung. Kami tidak berlama-lama berada dalam kawasan candi itu mengingat matahari makin menampakkan jati dirinya. Langit tanpa awan, sinar matahari pun begitu terasa membakar kulit.
Entah kenapa, ketika perjalanan pulang kami mendapati langit berubah menjadi berawan mendung seperti bersiap untuk membasahi kami. Berhenti sejenak untuk makan siang, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Magelang. Gerimis pun turun dan makin lama semakin deras sehingga memaksa kami berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan. Jas hujan terpakai, dan gowespun dilanjutkan sambil berbasah-basah ditengah kemacetan jalur utama Jogja-Magelang.

31122009884-800x600.jpg30122009880-800x600.jpg31122009887-800x600.jpg31122009895-800x600.jpg31122009900-800x600.jpg

Jumat (1 Jan) Setelah sarapan lontong sayur dan kue lupis di warung ujung gang, kami bersiap meluncur kembali ke Jogja dengan sepeda. Awal perjalanan dari Magelang, kami sungguh disambut oleh jalan menurun hingga lepas dari kota Magelang. Sambutan jalan menurun itu segera menghilang ketika papan-papan nama menunjukkan kab. Muntilan. disanalah kondisi jalan begitu menggoda untuk ditanjaki. tanjakan demi tanjakan harus dilalui, sementara sang surya menemani dengan hangatnya (baca:panas). Dahaga pun tak terelakkan hingga kami harus berhenti sejenak di 2 tempat. es campur ala muntilan jadi hidangan pertama, dan es cincau ala Sleman jadi pemuas dahaga berikutnya sebelum istirahat sholat Jum’at.
01012010906-800x600.jpg01012010907-800x600.jpg01012010909-800x600.jpg01012010910-800x600.jpg01012010911-800x600.jpg01012010912-800x600.jpg
Tiba di Stasiun Tugu, Jogja, sepeda pun segera di pereteli satu persatu agar dapat lebih mudah dimasukkan kedalam kereta. 2 Kursi kosong dari teman yang batal berangkat kami manfaatkan untuk menumpuk sepeda-sepeda hebat yang telah menemani liburan ini.

Tanggal 2 Januari 2010, Kami pun tiba kembali di Jakarta dengan selamat.

beberapa dari kami juga mendapatkan oleh-oleh tanda mata dari sang matahari berupa sunburn di beberapa bagian tubuh. 02012010913-800x600.jpg

2 Responses to “akhir Desember 2009”

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes